skip to main |
skip to sidebar
Baru saja dua bulan yang lalu semua karya The Beatles dirilis ulang dalam bentuk CD remastered, kini pihak Apple Corps selaku pemegang hak rekaman The Beatles akan mengeluarkan format baru lagi yaitu seluruh karya The Beatles dalam format digital, disimpan di USB flash disk, dan dikemas dalam bentuk buah apel. Rilisan ini terbatas banget, hanya dibuat 30.000 buah. Wuih kalo dibandingin sama fansnya The Beatles yang ada puluhan juta di dunia ini, pasti langsung abis lah ya. Walau harganya mahal, berkisar di USD 280, tapi kayaknya ga bakal menghalangi niat para fans fanatiknya deh. Uniknya lagi, rilisan ini merupakan debut karya The Beatles dalam bentuk digital lho. Yap, selama ini tidak ada satupun lagu The Beatles yang dijual secara resmi dan legal dalam format digital, bahkan di retailer digital sebesar iTunes sekalipun. Kapan keluarnya? Catet kalender kamu: 7 Desember 2009. Cocok banget buat hadiah natal ke bokap tuh.. atau buat sendiri aja kali yaa, hahahaha.
Dunia musik tahun 2009 ini bagai tidak putus kabar duka ya. Pada tanggal 2 November 2009 kemarin telah berpulang ke pangkuanNya penyanyi dangdut legendaris Ellya Khadam. Penyanyi bernama asli Siti Alya Husnah dan lahir 77 tahun silam ini meninggal karena penyakit diabetes yang dideritanya.Kalangan muda saat ini mungkin kurang mengenal nama beliau. Maklum masa-masa keemasannya adalah pada tahun 60an. Ia memulai karirnya dengan bernyanyi dari kampung ke kampung, hingga akhirnya diajak rekaman karena cengkok Melayu-nya yang khas. Namanya mencuat setelah menulis dan menyanyikan lagu "Boneka Dari India", yang bisa dibilang merupakan cikal bakal lagu dangdut di Indonesia, yang memadukan cengkok Melayu dan bebunyian India. Selain di bidang tarik suara, karirnya di dunia film juga tak kalah hebatnya. Bing Slamet dan Benyamin S. merupakan langganan lawan mainnya pada dekade 70-an silam. Berkat jasanya, kini musik dangdut menjadi identitas bangsa ini. Selamat jalan, "Boneka Dari India".
foto : www.jaduls.wordpress.com
Apa lagi coba berita nasional paling hangat saat ini kalau bukan perseteruan "buaya vs cicak" alias saling serang Kepolisian RI dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Semua perhatian media tersorot ke sini, dan beragam tokoh masyarakat memberikan dukungannya pada pihak yang mereka anggap benar.
Musisi gak ketinggalan dong. Sebuah kolaborasi antara Netral, Fariz RM, Once, Cholil “Efek Rumah Kaca” serta duo Kadri Jimmo The Prinzess of Rhythm menelurkan lagu "KPK Di Dadaku". Lagu ini "memelesetkan" lagu milik Netral yaitu "Garuda Di Dadaku" yang pernah dirilis untuk film berjudul sama. Lagu itu sendiri pun sebenarnya mengambil melodi lagu rakyat Papua, "Apuse".Lagu ini dirilis gratis dan juga bisa kamu pakai buat jadi ringtone hp kamu. Tentunya emang ini tujuan dirilisnya lagu ini, biar semua orang bisa nunjukin dukungannya terhadap pihak yang didendangkan. Kamu siap pasang dukungan kamu juga? Unduh aja di sini.
Sesak rasanya dada ini begitu keluar bioskop setelah menonton "This Is It", film yang berisikan latihan-latihan terakhir Michael Jackson menjelang serial konser-konser yang urung terlaksana. Selama dua jam gue tersihir melihat dan mendengar seseorang yang udah ngga mungkin lagi bisa melakukan semua itu. Kita udah ngga perlu bukti lagi betapa mengagumkannya Michael Jackson di panggung kali ya. Lewat film ini kita juga bakal liat kalo pas baru saat latihannya pun, dengan cuma usaha sedikit, ternyata dia sama mengagumkannya. Tanpa polesan efek teatrikal panggung, tanpa modifikasi suara di studio, tanpa guntingan dan suntingan video, semua bakatnya masih terlihat bersinar dengan natural. Padahal waktu itu usianya udah hampir 50 tahun!Sosok Michael Jackson yang selama ini misterius dan selalu terkesan freaky sedikit banyak tertepiskan lewat film ini. Walau yang terekam cuma sekelumit sisi kehidupannya di belakang panggung, yang terlihat adalah seorang sosok penghibur jenius yang rendah hati. Setiap usaha musisi, staf, atau penari pendukungnya selalu diganjar dengan kalimat pujian "God bless you". Setiap petunjuk dan kritik disampaikan dengan tutur kata yang halus, seakan beneran ngga mau kalau yang denger sampai sakit hati. Dan ternyata latihan berbulan-bulan dengan dia ngga bikin orang jadi "biasa" juga liat dia tampil lho. Semua kru dan pendukung yang terlibat masih aja ternganga tiap kali liat Jackson tampil.Film ini juga dengan elegan tidak mengeksploit kesedihan dan duka mendalam pasca meninggalnya Jackson. Sekalipun nggak pernah ada adegan yang merujuk kepada kepergian tragisnya, hanya 8 hari sebelum konser pertama dimulai. Bandingin dengan berita kematian artis lokal yang bisa ngga abis-abis dimuat di media sini, komplit dengan tangisan sanak keluarga sampai penggemar yang belom pernah ketemu sekalipun. Cuih.Buat yang ngarepin bisa nonton konser penuh yang spektakuler, jelas salah. Di sini bahkan ngga ada adegan dia moonwalk, mungkin karena dia masih nyimpen gerakan pamungkasnya itu untuk latihan khusus. Sama kayak dia juga bilang ngga mau nyanyi dengan tenaga penuh pas latihan di sini. Buat yang nonton untuk mengobati rindu akan Michael Jackson, salah juga. Nonton This Is It cuma bakal bikin elo makin merenungi betapa kita gagal mengapresiasi bakat seorang penghibur terbesar sepanjang masa, sewaktu dia hidup. This Is It, Inilah Dia, peninggalan terakhir sang raja pop Michael Jackson untuk umat manusia.